Pura-pura Wingit di Bali yang Viral di TikTok dan Instagram
Pernahkah kamu melihat video di TikTok atau Instagram yang menampilkan seseorang berpura-pura kesurupan atau berbicara dengan suara seram di sebuah pura di Bali?
Ini bukan sekadar konten biasa. Belakangan, tren pura-pura wingit di Bali tengah menjadi sorotan.
Banyak konten kreator yang memanfaatkan aura mistis Bali untuk menciptakan tontonan dramatis. Namun, di balik keseruan itu, ada kontroversi yang mulai mencuat.
Apa Itu Fenomena Pura-pura Wingit?
Istilah wingit dalam budaya Bali merujuk pada sesuatu yang sakral, mistis, atau memiliki energi spiritual tinggi.
Biasanya, tempat-tempat seperti pura, makam keramat, atau hutan angker dianggap wingit.
Namun, kini banyak anak muda yang sengaja berpura-pura kesurupan atau berbicara seolah-olah dirasuki roh saat berada di lokasi tersebut.
Mereka merekam aksi tersebut untuk konten media sosial. Tujuannya? Mendapat perhatian, like, dan viral di platform seperti TikTok dan Instagram.
Mengapa Tren Ini Jadi Viral?
Tren pura-pura wingit cepat menyebar karena daya tarik emosional yang kuat.
Konten horor dan mistis selalu menarik perhatian publik. Apalagi jika latar belakangnya adalah Bali — destinasi wisata dengan citra spiritual yang kuat.
Video-video ini sering dibumbui efek suara, musik menegangkan, dan editing dramatis.
Hasilnya? Engagement yang tinggi, komentar beragam, dan jutaan views dalam waktu singkat. Tak heran jika banyak kreator berlomba-lomba membuat konten serupa.
Dampak Negatif terhadap Budaya dan Kepercayaan Lokal
Meski viral, tren ini menuai kritik dari masyarakat Bali dan pihak adat.
Pura bukan tempat hiburan atau latar belakang konten lucu. Bagi umat Hindu Bali, pura adalah tempat suci untuk beribadah dan bermeditasi.
Mengolok-olok atau mempermainkan nuansa spiritual di sana dianggap tidak sopan dan melecehkan.
Beberapa pemuka adat bahkan mengeluarkan peringatan keras terhadap pelaku konten semacam ini. Ada kekhawatiran bahwa hal ini bisa merusak citra spiritual Bali di mata dunia.
Respon Pemerintah dan Komunitas Lokal
Pemerintah daerah dan komunitas adat mulai angkat suara terkait tren pura-pura wingit.
Beberapa pura kini memperketat aturan kunjungan, terutama bagi pembuat konten.
Pihak pengempon pura (pengelola pura) mulai membatasi aktivitas syuting tanpa izin.
Sosialisasi pun digalakkan agar wisatawan dan kreator memahami nilai sakral tempat suci.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga menyatakan dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.
Mereka mendorong konten kreatif yang tetap menghormati tradisi.
Menyikapi Tren dengan Bijak: Kreativitas vs. Penghormatan
Tren pura-pura wingit mengingatkan kita akan pentingnya batas antara kreativitas dan penghormatan.
Media sosial memang memberi ruang besar untuk berekspresi.
Namun, ekspresi itu tidak boleh menginjak nilai-nilai suci orang lain. Sebagai penikmat konten, kita juga perlu kritis.
Jangan hanya tergoda oleh sensasi, tapi pertanyakan etika di baliknya.
Mari dukung konten kreatif yang mengedukasi, menghargai budaya, dan tetap menjaga kearifan lokal.
Bali bukan hanya latar belakang konten — ia adalah rumah bagi jutaan jiwa yang memeluk kepercayaannya dengan tulus.







